KUALA KURUN – Potret Indonesia Terkini
Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di SMP Negeri 1 Kurun, Kabupaten Gunung Mas, kini memasuki pekan ketiga. Proses belajar mengajar tetap berjalan, meski pihak sekolah mengakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait kestabilan jaringan internet.
Kepala SMP Negeri 1 Kurun, Yono menjelaskan, seluruh tenaga pendidik tetap menjalankan tugas selama PJJ berlangsung. Kehadiran guru juga tetap dipantau melalui sistem presensi berbasis aplikasi.
“Tenaga pendidik tetap ada dan presensinya menggunakan aplikasi, sehingga kehadiran tetap terpantau,” jelasnya saat diwawancarai Selasa 15 September 2026 diruang kerjanya.
Menurutnya, persoalan yang muncul lebih banyak berkaitan dengan kondisi jaringan internet di sekolah. Ketika jaringan Wi-Fi mengalami penurunan kualitas akibat digunakan secara bersamaan, sebagian guru memilih melaksanakan kegiatan mengajar dari rumah karena mendapatkan akses internet yang dinilai lebih stabil.
Meski demikian, aktivitas guru di sekolah tetap berlangsung sesuai jadwal. Pada waktu tertentu, para tenaga pendidik tetap berkumpul dan memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan.
“Pembelajaran tetap berlangsung, meskipun memang tidak bisa sebagus ketika dilakukan secara tatap muka,” ujarnya.
Digitalisasi Pembelajaran
Di sisi lain, SMPN 1 Kurun juga mulai memanfaatkan perangkat pembelajaran interaktif yang merupakan bagian dari program digitalisasi pendidikan pemerintah.
Sekolah tersebut mendapatkan satu perangkat pembelajaran interaktif yang dapat digunakan guru dalam proses belajar mengajar. Kehadiran perangkat tersebut dinilai memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa.
Namun, keterbatasan jumlah perangkat menjadi tantangan tersendiri. SMPN 1 Kurun memiliki sekitar 26 ruang kelas, sementara perangkat yang tersedia baru satu unit.
“Ketika pertama datang, perangkat itu langsung dicoba. Ternyata bapak dan ibu guru lebih menikmati proses pembelajaran dengan perangkat tersebut bersama anak-anak,” ungkapnya.
Persoalannya, lanjut dia, jumlah guru yang ingin memanfaatkan perangkat tersebut cukup banyak. Saat ini terdapat sekitar 48 tenaga pendidik, sehingga diperlukan pengaturan jadwal penggunaan agar perangkat dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Karena hanya satu, sementara ruang kelas ada 26 dan guru kita sekitar 48, tentu pengaturannya cukup rumit,” katanya.
Listrik Aman, Internet Jadi Tantangan
Untuk kebutuhan listrik, pihak sekolah memastikan tidak menjadi persoalan berarti. Kapasitas listrik yang tersedia dinilai masih mampu mendukung penggunaan perangkat pembelajaran digital.
“Kalau listrik aman. Kita memiliki beberapa meteran dengan kapasitas yang cukup untuk mendukung kegiatan sekolah,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan yang lebih perlu mendapat perhatian adalah akses dan kestabilan jaringan internet. Kondisi tersebut menjadi penting karena transformasi pembelajaran digital membutuhkan konektivitas yang memadai.
Ia juga mengetahui adanya dukungan infrastruktur internet berbasis satelit yang disalurkan pemerintah ke sejumlah wilayah di Gunung Mas. Berdasarkan informasi yang diterimanya, terdapat sekitar 75 perangkat Starlink yang diberikan untuk kemudian disebarkan ke desa-desa, termasuk untuk mendukung kebutuhan pendidikan.
Namun, SMPN 1 Kurun belum mendapatkan fasilitas tersebut karena sekolah masih menggunakan layanan internet yang sudah tersedia.
Pihak sekolah berharap ke depan dukungan terhadap digitalisasi pendidikan tidak hanya berupa perangkat pembelajaran, tetapi juga diikuti dengan penguatan jaringan internet.
Dengan dukungan perangkat, listrik dan jaringan yang memadai, transformasi pembelajaran digital diharapkan dapat berjalan lebih efektif serta memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi peserta didik, khususnya di daerah yang menghadapi keterbatasan akses internet.
Dilaporkan oleh Endharmoko













