IAHN Palangka Raya Gelar Doa dan Ritual Tiga Tradisi Hindu, Mohon Hujan untuk Hentikan Karhutla

Daerah99 Views
banner 468x60

PALANGKA RAYA — Potret Indonesia Terkini

Di tengah kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih melanda Kalimantan Tengah, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Palangka Raya menggelar doa bersama dan ritual memohon turunnya hujan, Kamis (3/9/2026).

banner 336x280

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual sekaligus upaya mengangkat kembali nilai-nilai agama dan kearifan lokal dalam menghadapi kondisi alam yang semakin mengkhawatirkan.

Uniknya, doa dan ritual tersebut melibatkan tiga tradisi Hindu yang berkembang di Kalimantan Tengah, yakni tradisi Hindu Pedanda Bali, Basir atau Balian Dayak Ngaju dan Dayak Barito.

Tiga tradisi tersebut masing-masing diwakili rohaniwan. Dari tradisi Hindu Bali hadir pendeta, dari tradisi Dayak Ngaju diwakili Basir, sementara tradisi Barito diwakili tukang bediang.

Rektor IAHN Palangka Raya, Prof. Tiwi Etika, Ph.D, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut tidak terlepas dari keberadaan berbagai tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

“Di daerah itu ada banyak tradisi. Pada kegiatan ini diisi oleh tradisi Barito Utara, kemudian tradisi Dayak Ngaju, kemudian tradisi Bali,” jelas Prof. Tiwi.

Ritual Memohon Hujan dan Pengampunan Prof. Tiwi menjelaskan bahwa dalam tradisi Hindu terdapat ritual yang berkaitan dengan permohonan hujan. Bahkan dalam kondisi tertentu, ritual juga dapat dilakukan untuk memohon agar hujan ditahan atau digeser sementara ketika umat sedang melaksanakan kegiatan keagamaan.

“Dalam tradisi kami memang ada ritual dalam rangka turun hujan ini. Kemudian juga menggeser hujan.

Biasanya digunakan ketika kita melaksanakan ritual yang agak lama dan besar,” tuturnya.

Menurutnya, dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan yang berlangsung cukup lama, para rohaniwan biasanya memohon pertolongan Tuhan agar kegiatan berjalan lancar.

“Para rohaniwan biasanya meminta pertolongan Tuhan agar acara berjalan lancar. Kalau hujan, mohon digeser selama kegiatan, nanti silakan datang lagi,” ujarnya.

Namun, ritual yang dilakukan IAHN kali ini justru memohon agar hujan segera turun.

“Ini dalam rangka menurunkan hujan. Harapan kita agar bisa cepat turun hujan, karena hanya hujan, alam ini hanya bisa menghentikan kebakaran yang sedang kita alami,” ungkapnya.

Selain memohon hujan, ritual tersebut juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan memohon pengampunan atas kemungkinan kesalahan manusia terhadap alam.

“Ritual ini juga menjadi momen untuk memohon pengampunan atas segala yang dilakukan jika ada salah dengan alam. Kita memohon pengampunan, diberikan maaf dan solusi agar kita bisa keluar dari persoalan kebakaran yang kita alami sekarang,” katanya.

Tiga Tradisi Jadi Kekuatan Kearifan Lokal Keterlibatan tiga tradisi Hindu dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Pemuka Agama Hindu (3/9) IAHN Palangka Raya

Prof. Tiwi menilai nilai-nilai agama dan kearifan lokal harus terus dipertahankan, terutama ketika masyarakat menghadapi arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat.

Menurutnya, kemajuan zaman tidak boleh membuat masyarakat kehilangan identitas budaya yang telah diwariskan leluhur.

Kearifan lokal, katanya, merupakan bagian dari identitas masyarakat yang harus terus dibangun, dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Berawal dari Instruksi Menteri Agama

Prof. Tiwi mengungkapkan, kegiatan doa dan ritual tersebut dilaksanakan sebagai tindak lanjut instruksi Menteri Agama.

IAHN Palangka Raya diminta mengambil peran dalam menyikapi kondisi Kalimantan Tengah yang sedang dilanda Karhutla dan kemarau panjang.

“Instruksi beliau, lakukan sesuatu pada wilayah tengah yang sedang dilanda oleh kebakaran hutan dan lahan ini,” ungkap Prof. Tiwi.

Arahan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan komunikasi bersama Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran.

“Saya berkomunikasi dengan Bapak Gubernur. Kami menyampaikan akan mengadakan doa bersama dan ritual mengatur hujan. Beliau mengatakan, silakan dilaksanakan,” katanya.

Prof. Tiwi menyampaikan apresiasi karena kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Gubernur Kalimantan Tengah.

“Beliau membiayai semua kegiatan ini. Semua dibiayai oleh beliau, karena memang kami tidak ada anggaran untuk kegiatan ritual seperti ini. Saya hanya punya anggaran untuk pegawai sekarang,” ungkapnya.

Menurut Prof. Tiwi, dukungan tersebut sangat membantu IAHN sehingga kegiatan dapat terlaksana.

“Tentu bersyukur Bapak Gubernur mau membantu, mau meringankan tugas kami sehingga persoalan ini bisa berjalan dan kita doakan semoga segera turun hujan,” ujarnya.

Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran, S.Ikom (3/9) IAHN, Palangka Raya

Gubernur Agustiar:Doa Harus Disertai Upaya

Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa doa bukan hanya menjadi bagian dari satu agama, tetapi dapat dilakukan oleh seluruh umat beragama.

“Berdoa dilakukan oleh seluruh umat beragama. Kita sama-sama menjaga, melalui doa dan upaya untuk kebaikan bersama,” cetus Agustiar.

Menurut Gubernur, kondisi Karhutla dan kemarau panjang membutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat. Doa harus berjalan beriringan dengan upaya nyata untuk menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran.

Agustiar juga menekankan pentingnya mempertahankan nilai agama dan kearifan lokal sebagai identitas masyarakat.

“Agama itu mengajarkan kebaikan. Kearifan lokal merupakan identitas kita. Banyak sekali kearifan lokal yang kita miliki,” ujarnya.

Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, masyarakat menurutnya tidak boleh kehilangan jati diri.

“Jangan sampai kita terus terbawa arus global dan digitalisasi sehingga kehilangan identitas. Kita harus tetap mempertahankan kearifan lokal,” tegasnya.

Ajak Seluruh Umat Beragama Bersatu

Rektor IAHN, Prof. Tiwi Etika, Ph.D, I(3/9) AHN Palangka Raya

Prof. Tiwi kembali mengajak seluruh umat beragama untuk bersama-sama berdoa dan melakukan berbagai upaya dalam menghadapi kondisi kemarau dan Karhutla.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah, tetapi juga menjadi persoalan di sejumlah wilayah Indonesia bahkan berbagai negara.

“Kondisi ini sebenarnya biasa kita alami ketika musim kemarau. Karena itu mari kita bersama-sama berdoa, melakukan berbagai upaya untuk keluar dari kondisi seperti ini,” ajaknya.

“Di sini bukan hanya kita saja di Kalimantan Tengah yang mengalami, bahkan di beberapa provinsi, bahkan di beberapa negara,” lanjutnya.

Ia menilai manusia harus terus melakukan ikhtiar, sembari meningkatkan keimanan dan kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan hanya Tuhan, anugerah dari Tuhanlah yang bisa memperbaiki masalah ini.

Jadi mari kita tingkatkan rasa dan bakti kita, keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kita diberikan pengampunan, agar kita diberikan jalan keluar dari persoalan ini,” pungkas Prof. Tiwi.

Kegiatan doa dan ritual tiga tradisi tersebut akhirnya tidak hanya menjadi ritual keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut membawa pesan tentang persatuan, penghormatan terhadap alam, penguatan kearifan lokal serta pentingnya ikhtiar bersama menghadapi Karhutla dan kemarau panjang.

Di tengah ancaman bencana ekologis, doa menjadi ikhtiar spiritual, sementara menjaga alam dan mencegah kebakaran menjadi tanggung jawab bersama

Turut hadir, Sekretaris Daerah Provinsi dr. Linae Ade, Kepala Biro Umum Provinsi Kalteng Rangga Lesma, dan Kepala BKD Lisda.

Dilaporkan Oleh Endharmoko

Potret Indonesia Terkini.Id — Aktual, Terpercaya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *