Hari Sabtu, 26 September 2026, menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Mimin Liani. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan kondisi Cacat jantung bawaan dan berbagai keterbatasan medis, pemeriksaan jantung yang dilakukannya justru membawa kabar yang menurutnya merupakan sebuah mujizat dari Tuhan.
“Aku mau sedikit kesaksian. Hari ini aku terima mujizat, ungkapnya Sabtu, (26/9)
Tadi habis dari cek jantung. Bagian klep aorta yang bocor sudah sembuh. Pengapuran di klep juga sudah hilang. Menurut dokter pengapuran dapat berakibat gagal jantung karena katup tidak bisa menutup. Pengapuran tidak bisa.disembuhkan hanya dapat dicegah tidak bertambah.Denyut jantung normal,” demikian kesaksian Mimin.
Ia mengaku terkejut sekaligus bersyukur ketika dokter menyampaikan hasil pemeriksaannya. Fungsi jantungnya disebut mencapai 69,9 persen, angka yang menurut dokter sudah mendekati kisaran fungsi jantung seorang atlet yang disebut berada di sekitar 70–72 persen.

“Dokternya bilang hampir seperti atlet. Aku 69,9 persen, atlet 70 sampai 72 persen. Ini luar biasa katanya. Benar-benar mujizat,” ungkapnya.
Perjalanan Panjang dengan Kelainan Jantung
Kesaksian tersebut menjadi semakin bermakna karena Mimin bukan baru pertama kali menghadapi persoalan jantung.
Kelainan jantung yang dialaminya sudah ada sejak lahir. Salah satu kondisi yang diketahui adalah katup mitral yang mengalami kelainan posisi. Kondisi tersebut baru diketahui ketika dirinya berusia sekitar 23 tahun.
Saat itu, ia mendapatkan penjelasan bahwa kondisinya tidak memungkinkan untuk menjalani kehidupan dengan aktivitas seperti orang pada umumnya. Dokter bahkan memberikan batasan agar aktivitas normal yang dilakukan hanya sekitar 45 persen.
Namun Mimin memilih menjalani hidup dengan caranya sendiri: menjaga kesehatan, menjalani aktivitas sehari-hari dan tidak terus-menerus memikirkan penyakit yang dideritanya.
Seiring bertambahnya usia, persoalan pada katup jantungnya berkembang.
Pada usia 40-an, menurut kesaksiannya, terjadi kebocoran pada beberapa bagian katup jantung, termasuk katup aorta, katup mitral dan bagian katup yang berkaitan dengan aliran darah ke seluruh tubuh.
Dalam perjalanan berikutnya, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.
Pada usia 50-an, beberapa katup yang sebelumnya mengalami kebocoran atau renggang disebut mulai menutup dengan sendirinya.
Menurut Mimin, dokter menyampaikan bahwa secara medis kondisi seperti itu merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa.
“Dokter bilang tidak pernah ada kasus katup bocor atau renggang bisa menutup tanpa operasi. Karena kasus aku memang tidak bisa menjalani operasi, keadaannya berbeda.
Jadi aku hanya perlu berserah kepada Tuhan,” tuturnya.
Tahun Lalu Masih Ada Kebocoran dan Pengapuran
Perjalanan itu belum selesai. Pada pemeriksaan tahun sebelumnya, kebocoran pada katup aorta masih ditemukan.
Selain itu, terdapat pula pengapuran pada katup jantung. Saat itu dokter mengingatkan agar pengapuran tersebut tidak semakin bertambah karena dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi jantung.
Pesan dokter tersebut membuat Mimin kembali memeriksakan kondisi jantungnya pada Sabtu, 26 September 2026. Ia ingin mengetahui apakah pengapuran tersebut bertambah atau justru mengalami perubahan.
Hasil pemeriksaan kali ini justru membuatnya bersyukur.
Menurut kesaksian Mimin, kebocoran pada katup aorta sudah tidak lagi menjadi masalah seperti sebelumnya dan pengapuran yang sebelumnya terlihat juga disebut sudah tidak tampak. Denyut jantungnya pun berada dalam kondisi normal.
Masih terdapat sedikit bagian katup yang mengalami cacat dan belum menutup sempurna. Namun, menurut penjelasan yang diterimanya, kondisi tersebut tidak memberikan pengaruh berarti terhadap fungsi jantungnya saat ini.
“Kalau Melamar Kerja, Langsung Diterima”
Ada satu kalimat dokter yang membuat Mimin tersenyum sekaligus semakin menyadari bahwa kondisi pemeriksaannya kali ini sangat berbeda dari kekhawatiran sebelumnya.
“Wah, ini kalau melamar kerja langsung diterima dengan kondisi seperti ini. Siapa tahu Ibu masih mau kerja,” demikian dokter tersebut, sebagaimana diceritakan Mimin.
Bagi Mimin, ucapan itu menjadi sebuah pengalaman yang tidak biasa. Bertahun-tahun ia hidup dengan vonis dan keterbatasan medis, tetapi hari ini justru mendapatkan kabar bahwa kondisi jantungnya berada dalam keadaan yang sangat baik.

Dokter dan Pasien Berbagi Firman
Menariknya, hubungan Mimin dengan dokter yang menanganinya bukan hanya sebatas pemeriksaan medis.
Dokter tersebut beragama Katolik. Dalam setiap kesempatan berobat, keduanya juga kerap berbagi tentang firman Tuhan dan iman.
Bagi Mimin, ilmu kedokteran tetap penting dan harus dihargai. Namun dalam perjalanan hidupnya, ia juga menemukan kekuatan melalui doa dan kepercayaannya kepada Tuhan.
Kesembuhan yang ia alami hari ini kemudian dimaknainya sebagai jawaban Tuhan atas iman dan penyerahan dirinya.
“Sepanjang hidup aku tidak pernah terlalu memikirkan sakit. Aku jalani hidup normal dan tetap menjaga kesehatan.”
Kini, di tengah rasa syukurnya, Mimin ingin membagikan pengalaman tersebut bukan untuk menggantikan pengobatan medis, melainkan sebagai kesaksian iman pribadi bahwa dirinya percaya Tuhan dapat bekerja melalui berbagai cara.
Baginya, ketika manusia sudah berusaha, menjaga kesehatan, menjalani pemeriksaan dan mengikuti nasihat medis, masih ada ruang untuk menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
“Percaya dengan iman, Tuhan akan beri mujizat.”
Itulah kalimat yang menjadi inti kesaksian Mimin Liani.
Sebuah perjalanan panjang dari diagnosis sejak usia muda, keterbatasan aktivitas, kebocoran pada sejumlah katup, kekhawatiran terhadap pengapuran, hingga pemeriksaan pada usia sekarang yang justru membawa kabar penuh sukacita.
Bagi Mimin, hari ini bukan sekadar hasil pemeriksaan jantung. Hari ini adalah sebuah kesaksian tentang harapan, iman, doa, dan rasa syukur kepada Tuhan.
Ditulis oleh Endharmoko berdasarkan Kesaksian Mimin Liani













