Jakarta – Potretindonesiaterkini.id
Sejak dimulai tahun 2021, Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) telah memasuki angkatan ke-83 diikuti oleh 167 guru agama Katolik dari berbagai provinsi di Indonesia. Pelatihan LKLB ini diadakan oleh Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAR) Atma Reksa Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), bekerja sama dengan Institut Leimena.
Uskup Agung Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga Anggota Dikasteri untuk Evangelisasi di Vatikan, Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, menyoroti peran guru dalam menanamkan iman yang inklusif melalui pemahaman literasi keagamaan lintas budaya.
Pengunduran (pelatihan LKLB) sampai bulan Oktober karena di Flores kami masih dalam masa tanggap darurat pasca gempa, tapi justru memungkinkan pelaksanaan kegiatan ini jatuh berdekatan dengan peringatan 40 tahun pertemuan para pemimpin lintas agama di Assisi, Italia, tanggal 27 Oktober mendatang,” kata Mgr. Paulus yang membawakan ceramah kunci dalam pelatihan LKLB yang diadakan 12-14 Oktober 2026.
Ia mengatakan pelatihan LKLB menjadi semakin relevan menjelang dua inisiatif global dalam konteks hubungan lintas agama. Pertama, pertemuan pemimpin lintas agama di Assisi, Italia, yang lahir dari inisiatif Paus Yohanes Paulus II pada 27 Oktober 1986 agar para pemimpin lintas agama berdoa untuk perdamaian dunia. Pada tahun ini, doa bersama di Assisi akan dihadiri Paus Leo XIV.
Kedua, pengesahan Nostra Aetate pada 28 Oktober 1965 yaitu deklarasi Konsili Vatikan II tentang hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama lain. Dokumen Konsili Vatikan II tentang pendidikan, Gravissimum Educationis, menyatakan guru dalam arti sebenarnya adalah kerasulan yang paling sesuai dan diperlukan untuk zaman ini, sekaligus pelayanan sejati bagi masyarakat.
Para guru mempunyai peran besar untuk menanamkan dalam diri orang-orang muda kita kedalaman keyakinan imannya sendiri, serentak keterbukaan untuk menghargai orang lain dengan keyakinan yang berbeda,” kata Mgr. Paulus dalam ceramahnya yang berjudul “Guru dan Keterbukaan Lintas Agama: Perspektif Katolik”.
Mgr Paulus, yang ditunjuk secara resmi oleh Paus Leo XIV pada Juni 2026 menjadi anggota salah satu lembaga penting di Takhta Suci, menegaskan pertemuan pemimpin lintas agama di Assisi menunjukkan bahwa agama-agama tidak hanya tampil sebagai agen yang mudah dituduh sebagai pemicu konflik, bahkan konflik berdarah, tetapi menjadi sebuah kekuatan yang mendorong upaya perdamaian.
“Kita hanya bisa memastikan masa depan saling menghormati dan kerja sama antaragama jika kita bisa mendidik generasi muda kita dengan semangat ini. Dialog tidak cukup dibicarakan, tetapi harus disediakan peluang dan kesempatannya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung tantangan yang dihadapi dalam hubungan lintas agama antara lain heterophobia dan autophobia, berkaitan dengan ketakutan atau penolakan terhadap pihak yang berbeda. Selain itu, sikap ketidakacuhan atau kebisuan mayoritas terhadap tindakan diskriminatif seperti perusakan rumah ibadah atau pembubaran ibadah, sehingga oknum merasa diteguhkan dalam aksinya.
Mgr. Paulus mendorong umat beragama menerapkan konsep agama resurektif dimana agama menjadi sumber inspirasi untuk memperjuangkan perubahan kualitas hidup manusia dan alam. Orang yang menghidupi agama seperti ini sadar bahwa agama adalah panggilan untuk membela manusia.
“Ia tidak sekadar berjuang menegakkan ajaran agama dan menjaga kemurnian ritus, tapi terutama menegakkan manusia yang bungkuk karena tertindih tekanan ekonomi, paksaan sosial, dan kamuflase politik, serta memurnikan keluhuran martabat manusia,” kata Mgr. Paulus.
Cendekiawan Muslim dan Mantan Menteri Luar Negeri RI, Alwi Shihab, menyatakan melalui Deklarasi Nostra Aetate, gereja membuka diri untuk berdialog dan menciptakan saling pengertian, serta memandang positif agama lain. Alwi meyakini kandungan Nostra Aetate juga ada dalam agama lainnya.
Dalam konteks Islam, upaya membangun perdamaian dan harmoni juga dilakukan salah satunya melalui surat terbuka berjudul “A Common World Between Us and You” pada 13 Oktober 2007. Surat dari 138 tokoh Islam terkemuka dari berbagai negara kepada Paus Benediktus XVI dan pimpinan lembaga-lembaga gereja dunia lainnya seperti Anglikan, Baptis, Ortodoks, Reformed, dan lainnya.
“Tahun 2019, Abu Dhabi, UEA, menjadi tuan rumah pertemuan Paus Fransiskus dengan Sheikh Al Azhar, dilanjutkan dengan konferensi ‘persaudaraan umat manusia’ (al Ikhwah al Insaniyah),” kata Alwi.
Alwi, yang merupakan Senior Fellow Institut Leimena, menambahkan Program LKLB membekali guru dengan tiga kompetensi yaitu kompetensi pribadi (mendalami ajaran agama masing-masing), kompetensi komparatif (mencari persamaan dengan orang yang berbeda untuk membangun dialog), dan kompetensi kolaboratif (membangun kerja sama untuk kesejahteraan bersama).
Senada dengan itu, Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, mengatakan guru dan pendidik berperan membentuk generasi yang cerdas secara akademik sekaligus memiliki empati, sikap kritis, dan kemampuan membangun relasi yang sehat di tengah keberagaman.
“Melalui LKLB, kita diajak memahami bahwa mengenal agama dan budaya lain tidak berarti mengurangi kesetiaan kita terhadap iman sendiri. Justru dengan memahami orang lain secara lebih baik, kita dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka, mengurangi perselisihan, dan menemukan ruang untuk bekerja sama demi kebaikan bersama,” kata Daniel.
Daniel menyatakan kemampuan berdialog dan menghormati keberagaman perlu ditumbuhkan melalui proses pendidikan, bukan hanya diajarkan sebagai konsep.
“Institut Leimena mendorong para pendidik untuk mengembangkan pemahaman lintas agama dan budaya yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar dan kehidupan bermasyarakat. Sejak 2021, Program LKLB telah diikuti oleh lebih dari 12.000 guru dari 38 provinsi di Indonesia, bermitra dengan 40 lembaga pendidikan dan keagamaan,” kata Daniel.
Kepala Kantor Kementerian Agama Ende, Nikolaus Nama Payon, mengatakan Ende memiliki makna penting dalam perjalanan kebangsaan Indonesia karena di kota inilah Bung Karno menjalani masa pengasingan dan melakukan perenungan mendalam tentang masa depan bangsa dan dasar filosofis untuk Indonesia merdeka.
Bung Karno merefleksikan nilai-nilai yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan lahirnya Pancasila. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa persatuan bangsa tidak dibangun dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan menemukan nilai-nilai bersama yang memungkinkan setiap orang hidup berdampingan secara bermartabat,” kata Nikolaus.


















