Pendidikan karakter sebagai keutamaan terus diupayakan pemerintah melalui sistem pendidikan nasional serta institusi pendidikan swasta. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun asrama/boarding school. Pendidikan berbasis asrama yang berkembang memungkinkan pengelolaan sistem pendidikan yang menekankan pendidikan karakter. Hal ini menandakan bahwa pendidikan berbasis asrama erat kaitannya dengan pembangunan karakter peserta didik. Asrama sebagai sarana tempat tinggal peserta didik tidak hanya didirikan di sekolah, akan tetapi juga di perguruan tinggi. Asrama mahasiswa sebagai sarana pembentukan karakter menjadi semakin relevan karena mahasiswa berada dalam rentang usia 17-22 tahun. Usia ini menurut teori perkembangan Rousseau mahasiswa sedang berada dalam situasi di mana anak-anak harus mampu mengatur emosi dan tindakannya terhadap kepentingan teman-temannya. Di samping itu, anak-anak juga beranjak pada masa belajar tentang kasih, persiapan untuk pernikahan yang baik dan hubungan sosial dengan masyarakat. (JJ. Rousseau dalam Darmawan, 2016 p.16).

Menurut Williams, (2011) dalam Papworth (2014) melalui Noveliza (Tepy 2016), sekolah berasrama dirancang dan diperuntukkan bagi para peserta didik untuk membentuk sikap, perilaku, serta karakter yang sesuai dengan visi/misi sekolah di mana para peserta didik (berasrama) didampingi oleh guru/senior yang dapat memantau perkembangannya secara berkelanjutan. Melalui sistem sekolah berasrama berbagai aktivitas yang dirancang merupakan aktivitas-aktivitas yang dapat memotivasi para peserta didik (berasrama) untuk mencapai visi/misi yang telah ditetapkan (Tepy, 2016 p.98-114). Asrama sebagai bagian dari pendidikan memiliki karakteristik adanya keterpisahan relasi antara anak dan orang tua atau dipisahkan kemudian tinggal bersama dengan rekan sebaya di asrama. Sebagai manifestasi dari dunia pendidikan, asrama memiliki bentuk dan ragam yang banyak. Hal itu disesuaikan maksud dan kepentingan pengembangannya. Sejalan dengan uraian di atas, Wei & Chen memberikan batasan, asrama mahasiswa adalah tempat berjalannya fungsi kehidupan, fungsi pengelolaan, fungsi pendidikan, dan merupakan sumber daya pendidikan yang signifikan untuk mempromosikan pengembangan mahasiswa secara keseluruhan (Wei & Chen, 2019 p.1-10). Asrama dalam batasan ini semakin mendekatkan fungsi asrama sebagai tempat tumbuhnya kehidupan, bukan semata-mata secara formal untuk mencapai tujuan seperti pendidikan. Asrama menjadi suatu tempat kehidupan itu sendiri dengan tata hidup yang terkelola dan terpola. Asrama tidak terbatas fungsi secara kelembagaan. Asrama justru menjadi arena kehidupan yang dibangun dari semua sisi.
Asrama sebagai rumah kedua merupakan sarana belajar kehidupan sosial yang efektif melalui interaksi sehari-hari. Pola hidup yang dikembangkan dapat membentuk karakter. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa anak-anak tumbuh di dalam lingkungan yang akan memunculkan percakapan-percakapan, komunikasi dan interaksi yang membangun. David I. Smith menguraikan pentingnya sekolah dan Perguruan Tinggi Kristen menemukan cara menemukan percakapan-percakapan secara sungguh-sungguh, berkelanjutan, terbuka, dan serius karena cara-cara itu akan sangat menentukan kualitas pedagogi (Smith, 2019 p. 227).
Kehidupan asrama sebagai kehidupan bersama, memberikan peluang positif bagi perkembangan fase-fase kehidupan mahasiswa. Di dalam interaksi dengan latar belakang budaya, para mahasiswa memiliki bentuk narasi yang dapat membangun hubungan bersama komunitas. Narasi yang positif ini akan memberikan makna di dalam relasi dan tindakan sehingga memberikan kontribusi bagi kebiasaan dan pola hidup yang membentuk karakter. Alasdair C. Macintre menegaskan akan peran narasi dan relasi dalam tindakan (2007 p.216). Dengan demikian, perkembangan dan pertumbuhan hidup dapat dibentuk dalam komunitas yang memiliki jalinan sosial dan latar kehidupan itu.
(Dr. Abednego Tri Gumono, M.Pd. dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang)
Rujukan:
Darwaman, L. (2016), Pendidikan Back to Nature Pemikiran Jacques Rousseau Tentang Pendidkan: Satya Widaya, 32(1), 11-18.doi:
10.24246/j.sw.2016. v. 32i1.
Macinvtre, Alasdair C. (2007). After Virtue; A Study in Moral Theory, ed
ketiga (Notre Dame, IN; University of Notre Dame Press), 2016.
Smith, B. (2012). Biblical Integration: Pitfalls and Promise. BJU
Press, 5-6.
https://www.bjupress.com/images/pdfs/bible-integration.pdf
Tepy, N. R. T. (2016). Strategi Pengelolaan Sekolah Tinggi Berasrama di Kabupaten Semarang. Jurnal Manajemen Pendidikan Magister Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544FKIP Universitas Kristen Satya Wacana, 3(1), 98–114.
Wei, W. Z., & Chen, L. (2019). A Survey of College Student Dormitory Lifestyle and Related Management Strategies. Asian Education Studies, 4(1). https://doi.org/10.20849/aes.v4i1.56













