Jakarta – Potret Indonesia Terkini
Pada Rabu 12 Agustus 2026 Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, berkolaborasi dengan Institut Leimena mengadakan Program Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diikuti sedikitnya 750 guru madrasah dari 36 provinsi di Indonesia.
Direktur GTK Madrasah, Fesal Musaad, mengatakan literasi keagamaan lintas budaya menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh setiap pendidik di Indonesia. Ia berharap pelatihan LKLB bisa ikut mendongkrak indeks kerukunan umat beragama (KUB) di Indonesia yang pada 2025 sebesar 77,89 persen.
“Jika sampai 100 (persen), Indonesia bisa saja menjadi negara eksportir moderasi dan center of excellence toleransi dan perdamaian dunia. Semoga pelatihan LKLB mampu mendongkrak indeks KUB,” kata Fesal sebagai narasumber kunci, Rabu (12/8/2026).
Pelatihan yang diadakan pada 10-14 Agustus 2026 secara daring dan asinkronus diisi oleh narasumber dari dalam dan luar negeri antara lain Menteri Luar Negeri RI tahun 1999-2001, Alwi Shihab, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), M. Amin Abdullah, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI, Faried Saenong, Wakil Asia Presidium Dewan Gereja-gereja Sedunia Pdt. Henriette T. Lebang, Senior Non-Residence Scholar University of Pittsburgh, Chris Seiple, dan Guru Besar New York University, Elisha Russ-Fishbane.
Fesal menyebut literasi bukan upaya menyeragamkan keyakinan atau mengaburkan identitas keagamaan seseorang. Sebaliknya, LKLB adalah upaya memperkuat komitmen setiap individu terhadap ajaran agamanya, sembari membangun kemampuan untuk memahami keberagaman secara arif dan objektif.
“Dengan kata lain, seseorang dapat menjadi pemeluk agama yang taat dan warga bangsa yang bisa hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang plural,” kata Fesal.
Fesal mengatakan Program LKLB sangat selaras dengan agenda transformasi pendidikan Kemenag RI, khususnya penguatan Moderasi Beragama dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dicanangkan oleh Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar. Ia mengatakan KBC sudah terimplementasi secara masif di madrasah, termasuk adanya 6.629 madrasah piloting KBC.
Sejalan dengan KBC, ujar Fesal, LKLB tidak hanya membekali guru kemampuan memahami keragaman agama, budaya, dan tradisi secara objektif. Guru juga dilatih keterampilan pedagogis untuk menumbuhkan empati, membangun budaya dialog, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
“Saya percaya, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga menghasilkan manusia yang mampu bekerja sama dengan siapa pun, menghormati perbedaan, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” tandas Fesal.
Ia menambahkan era digital melahirkan sejumlah tantangan yaitu ketika peserta didik memperoleh informasi tanpa batas termasuk beragam narasi keagamaan yang belum tentu benar, ujaran kebencian, polarisasi sosial, dan intoleransi. Itu sebabnya, guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, namun harus menjadi pembimbing, pendamping, sekaligus penuntun agar murid mampu bersikap bijaksana dan menepis informasi menyesatkan.
“Penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya sangat selaras dengan arah pembangunan pendidikan madrasah dan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kualitas guru sebagai agen transformasi,” kata Fesal.
Direktur Esekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB yang diluncurkan tahun 2021 hingga saat ini telah dilaksanakan 79 kali dengan total lulusan 11.388 pendidik dari 38 provinsi. Matius mengatakan LKLB pada intinya sebuah pendekatan untuk membantu menggali dan menerapkan nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa Indonesia, termsauk di dalamnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini, hubungan antar umat beragama dan berkeyakinan sering mendapat sorotan karena adanya ketegangan, bahkan konflik, atau minimal keengganan untuk membangun relasi, apalagi kolaborasi,” kata Matius.
Matius mengatakan Program LKLB tidak hanya diikuti peserta dari dalam negeri, melainkan telah melatih para calon pemimpin politik dari Vietnam dan para guru serta dosen dari Mindanao, Filipina. LKLB juga telah diakui sebagai strategi dalam Visi Komunitas ASEAN 2045, khususnya dalam pilar Komunitas Politik-Keamanan dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN.
“Program LKLB tidak melatih orang untuk menjadi pakar agama, namun membekalinya dengan literasi agar mereka dapat belajar memperlakukan orang lain secara setara dan membangun rasa saling menghormati dalam masyarakat yang beragam. Ini membuatnya relevan juga dalam konteks ASEAN yang sangat majemuk,” kata Matius.
















