Tantangan Orisinalitas dalam Proses Kreatif Menulis di Tengah Era Artifiscial Inteligence

(Dr. Abednego Tri Gumono, M.Pd. Dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang)

Artikel, Nasional128 Views
banner 468x60

Artificial Inteligence adalah keniscayaan yang berada di area hidup kita. Sebagai pengajar Bahasa dan Sastra, penulis sangat terkait erat dengan perangkat ini. Dalam praktik menulis, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu kita. Namun demikian, AI akan sangat mungkin mengancam sisi orisinalitas tulisan. Jadi, pada saat berbicara proses menulis dan AI, pertanyaan yang muncul adalah apakah dengan AI berarti proses menulis misalnya bidang sastra sudah paripurna karena problem orisinalitas? Atau proses menulis karya sastra berhenti?

Ilustrasi

Setelah penulis merenungkan, jawabannya pasti: tidak. Karya sastra (penciptaan karya sastra) tidak akan terhenti karena AI. Keyakinan itu karena penciptaan karya sastra yang bermutu menyangkut tiga hal, pertama karya sastra lahir dari kejujuran. Kedua karya sastra berisi visi pengarang. Ketiga, karya yang baik harus orisinal, asli, dan baru. Bagaimana mungkin karya sastra yang seharusnya jujur mengungkapkan visi pengarang itu ditulis dengan proses yang tidak jujur? Jika demikian, ini merupakan sebuah ironi dan menghancurkan karya sastra itu sendiri. Di samping itu, keutamaan karya sastra bermutu harus orisinal, baru, dan asli (bukan tiruan).

banner 336x280

Lalu, bagaimana kita bijak memaknai dan memanfaatkan perangkat canggih ini? Dengan adanya AI, justru menantang guru dan dosen untuk mengobarkan perjuangan menciptakan karya-karya tulis yang asli. Dalam “kasus” ini, guru maupun dosen memiliki tanggung jawab untuk memegang kendali atas bentuk pembelajaran sastra dan juga bahasa. Dalam proses mencipta karya tulis, guru maupun dosen sangat penting mengarahkan, mendesain assessment yang menuntun pentingnya orisinalitas sebagai hakikat karya tulis. Lebih-lebih, kenyataan bahwa kapasistas berpikir untuk menulis adalah energi kreatif yang berasal dari Sang Pencipta. Siswa dan mahasiswa sebagai ciptaan/rupa dan gambar Allah seharusnya mencerminkan Sang Pencipta dalam perannya sebagai pemegang mandat budaya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mungkin energi kreatif dari Sang Pencipta itu dimanifestasikan dengan karya yang tidak jujur?

Sekali lagi, menulis bukan sekadar mencari nilai untuk tugas dari guru atau dosen, menulis bukan untuk mencari sensasi demi popularitas. Jika ini yang ada dalam benak anak didik kita, mereka akan cenderung mencari jalan pintas yang tidak benar.

Menulis adalah mengekspresikan visi, misi, dan mengoptimalkan anugerah energi kreatif Sang Pencipta dan mewujudkan diri sebagai The Image of God. Oleh karena itu, AI dalam hal ini hanya sebagai alat yang mendukung bukan sumber utama. Sumber utama adalah pengetahuan dan pengalaman manusia itu sendiri yang dianugerahkan Allah. Berdasarkan hal-hal yang telah tersebut penulis menggarisbahawahi beberapa hal, pertama AI adalah perangkat bantuan dalam melahirkan karya tulis orisinal. Alat bantu ini bisa di dalam memperluas pandangan maupun cara. Kedua, karena bersifat membantu, kita bukanlah pasien yang bergantung pada AI sehingga hasil karya kita bukan karya yang semu. Ketiga orisinalitas karya adalah keutamaan. Dengan paradigma ini, niscaya kita akan tetap konsisten melahirkan proses kebahasaan yang asli, jujur, orisinal dan bervisi. Karya cipta AI itu sendiri juga merupakan anugerah Allah yang unik dan istimewa dari Allah yaitu kepintaran manusia sebagai ciptaan. Dengan demikian, sebagai pengajar, kita dapat bijak menggunakan perangkat AI khususnya dalam proses menulis.

Tentang Penulis

(Dr. Abednego Tri Gumono, M.Pd. Dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang)

 

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *