Di berbagai sudut pinggiran Bogor, Sukabumi, dan Cianjur, masih banyak anak-anak usia sekolah dasar yang belum mendapatkan pendampingan belajar memadai. Keterbatasan ekonomi keluarga, minimnya fasilitas belajar, serta rendahnya literasi orang tua menjadi tantangan yang terus berulang. Namun, dari kondisi tersebut lahirlah sebuah inisiatif menarik: siswa-siswa SMA/SMK yang menjadi fasilitator belajar bagi adik-adik di lingkungan mereka, secara sukarela dan tanpa imbalan.
Inisiatif ini tumbuh melalui program EduNation dari Yayasan Emmanuel, Sentul—sebuah program pembinaan berjenjang bagi anak-anak SMA/SMK penerima beasiswa. Mereka tidak hanya dibiayai pendidikannya, tetapi juga dilatih agar menjadi agen transformasi pendidikan di komunitas asal mereka.
Pada tahun akademik 2025/2026, Program Studi PGSD Universitas Pelita Harapan (UPH) kembali dipercaya menjadi mitra pelaksana pelatihan fasilitator belajar. Tulisan ini merangkum bagaimana pendampingan dilakukan, apa capaian yang terlihat, serta bagaimana peran kecil para remaja ini membawa dampak bagi pendidikan akar rumput. Adapun dosen yang terlibat dalam sepanjang kegiatan ini yaitu Oce Datu Appulembang, M.Pd., dan Dince Bunda, M.Ed berserta dengan mahasiswa pendamping yang akan menjadi helper selama kegiatan workshop dilakukan. Pada term ini juga melibatkan dosen Pendidikan Bahasa Indonesia yaitu Inne Pelangi, M.Pd., dosen Pendidikan IPS yaitu Maha Dewi Sabrina Nalle, M.Ed. dan Asih Enggar Susanti, M.Pd., serta dosen kurikulum yaitu Debora Pratiwi Sibarani, M.Pd.,
Membekali Remaja untuk Mengajar Anak di Lingkungannya
Banyak peserta EduNation awalnya tidak memiliki pengalaman mengajar. Mereka bahkan mengaku tidak percaya diri berbicara di depan orang lain. Namun mereka memiliki keinginan besar untuk melayani anak-anak di sekitar rumah mereka.
Di sinilah pendampingan diperlukan—bukan hanya untuk membekali keterampilan teknis mengajar, tetapi juga untuk membangun karakter dan kesadaran diri mereka sebagai calon fasilitator yang memiliki peran sosial.
Selama 8 sesi pendampingan yang berlangsung dari Juli 2025 hingga Desember 2025, peserta mengikuti pelatihan yang mencakup:
1. Pengenalan diri, potensi, dan gaya belajar
Peserta memahami kekuatan diri sekaligus tantangan personal mereka. Tahap ini terbukti meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam mengambil peran sebagai fasilitator.
2. Manajemen kelas dan perkembangan anak
Peserta belajar memahami karakter anak usia SD, cara menata kelas sederhana di rumah, hingga strategi menangani perilaku anak yang beragam.
3. Literasi dan numerasi dasar
Ini menjadi fondasi penting mengingat sebagian besar bimbingan belajar di rumah dilakukan untuk membantu anak-anak SD memahami konsep dasar matematika dan membaca.
4. Public speaking dan komunikasi efektif
Materi ini menjadi “game changer”. Peserta yang awalnya gugup berbicara bahkan di depan teman sebaya mulai berani menyampaikan pendapat, memimpin diskusi, dan tampil mengajar melalui sesi microteaching.
5. Microteaching, pembuatan LKS, dan perencanaan pembelajaran
Peserta merancang Lembar Kerja Siswa, menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH), hingga mempraktikkan sesi mengajar singkat.
Pendekatan ini menggabungkan pemaparan teori, praktik langsung, diskusi kelompok, permainan edukatif, hingga sesi refleksi di akhir setiap kegiatan.

Dampak yang Terlihat dari Lapangan
Salah satu keunikan program ini adalah adanya monitoring lapangan dari tim Yayasan Emmanuel. Mereka mengunjungi rumah-rumah peserta untuk melihat bagaimana implementasi pengajaran berlangsung—sebuah langkah yang jarang dilakukan dalam program pelatihan guru muda.
Gambar 2. Kegiatan seminar di ruangan
Dari hasil observasi tersebut, ditemukan bahwa:
• Hampir semua peserta benar-benar menjalankan bimbingan belajar mingguan.
• Anak-anak di lingkungan mereka mengikuti dengan antusias.
• Orang tua memberikan dukungan besar karena layanan ini membantu anak-anak belajar tanpa biaya.
• Fasilitator muda semakin percaya diri dan merasa pembelajaran mereka bermanfaat.
Dalam lembar refleksi yang dikumpulkan pada akhir pelatihan, beberapa peserta menulis:
“Saya kini lebih percaya diri berbicara di depan banyak orang.”
“Saya bisa mengajar adik-adik di rumah dan mereka senang belajar bersama saya.”
“Saya jadi ingin terus belajar supaya dapat menolong lebih banyak anak.”
Perubahan-perubahan seperti ini menunjukkan bahwa pendampingan bukan hanya membangun kompetensi pedagogis, tetapi juga menumbuhkan identitas diri dan motivasi intrinsik peserta.
Gambar 3. Latihan praktik mengajar dalam kelompok kecil saat pelatihan
Tantangan dan Pembelajaran Penting
Setiap hal baik yang hendak dilakukan, tidak pernah luput dari tantangan. Tantangan pun membawa kita pada daya juang dan memurnikan kita dalam berjuang memberikan yang terbaik. Tantangan akan menguji kemurnian. Tentu tidak semua berjalan mulus. Beberapa tantangan muncul selama pelaksanaan, antara lain:
• Kendala biaya transportasi dari kampus ke Sentul yang seluruhnya akhirnya ditanggung oleh mitra yayasan.
• Kehadiran peserta level 300 yang tidak penuh karena benturan dengan kegiatan sekolah seperti PPL dan ujian.
• Kesulitan tim pengajar menjangkau lokasi fasilitator di rumah sehingga pendampingan lapangan dilakukan sepenuhnya oleh tim mitra.
Meski demikian, kolaborasi yang kuat antara PGSD UPH dan Yayasan Emmanuel membuat seluruh kegiatan tetap terlaksana dengan baik dan berdampak nyata.
Ketika Pendidikan Akar Rumput Menjadi Gerakan Bersama
Program pendampingan ini menjadi contoh bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak harus selalu dimulai dari bangunan megah, program besar, atau teknologi canggih. Terkadang, perubahan dimulai dari:
• seorang remaja yang mengajar dua anak tetangganya di ruang tamu,
• sekelompok guru dan mahasiswa yang membagikan ilmu mereka,
• dan yayasan kecil yang konsisten memberi dukungan.

Melalui EduNation, para remaja menerima kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan melayani. Mereka bukan hanya menjadi fasilitator belajar, tetapi juga agen harapan bagi komunitasnya.
Dan dari Sentul, harapan itu kini menyebar ke banyak sudut kecil di pinggiran kota—dinyalakan oleh anak-anak muda yang hatinya besar.
Tentang Penulis
Oce Datu Appulembang, M.Pd. adalah dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar di bidang Pendidikan Matematika di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Penulis menyelesaikan strata satu pada bidang ilmu Pendidikan Matematika, Universitas Pelita Harapan pada tahun 2010. Penulis memperkokoh panggilannya sebagai guru matematika di berbagai sekolah di bawah Yayasan Pendidikan Pelita Harapan dari 2010 – 2012. Dalam rangka memperdalam ilmunya di bidang pendidikan matematika, pada tahun 2013 penulis melanjutkan program magister pendidikan matematika di Universitas Negeri Makassar dan menyelesaikannya pada tahun 2015. Panggilan dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan Kristen, menuntunnya berkarir sebagai dosen di UPH sejak akhir tahun 2015 sampai sekarang. Fokus pada bidang pendidikan matematika, ketertarikan penelitian dan pelayanan masyarakat dalam bidang pendidikan matematika, belajar mengajar matematika, keyakinan guru matematika, cara berpikir matematika dan numerasi. Penulis juga terlibat dalam berbagai kegiatan untuk memberikan pelatihan guru dalam bidang matematika, melalui kerjasama dengan Balai Penggerak Guru Sulawesi Utara, Yayasan Emmanuel Sentul dan beberapa instansi sekolah. Penulis dapat dihubungi melalui email: oce.appulembang@uph.edu atau oche.datu@gmail.com.













