Pembuka Khotbah
Tuhan sedang membangun pasukan, bukan sekadar mengumpulkan banyak orang. Sebab di mata manusia mungkin itu terlihat rohani—sebuah pertemuan besar, kerumunan yang ramai, aktivitas yang penuh semangat—namun di mata Tuhan itu bisa saja hanyalah kegaduhan tanpa makna.

Seperti yang dinyatakan dalam Kitab Yesaya 13, ada suara gaduh di atas gunung—tempat yang seharusnya kudus, tempat perjumpaan dengan Allah—namun yang terdengar bukanlah penyembahan yang murni, melainkan hiruk-pikuk yang kosong.
Mereka memang ada di “gunung Tuhan”… tetapi hati mereka tidak naik kepada-Nya.
Mereka berkumpul… tetapi tidak berperang dalam kehendak-Nya.
Mereka bersorak… tetapi tidak hidup dalam ketaatan.
Point pertama ;
TERJADI KEGADUHAN DI GUNUNG TUHAN.
Inilah peringatan yang tegas:
Tuhan tidak mencari keramaian, Tuhan mencari kesiapan.Tuhan tidak mencari euforia, Tuhan mencari kesetiaan.
Dan Tuhan tidak sedang membentuk penonton… tetapi pasukan yang terlatih, murni, dan taat untuk menggenapi kehendak-Nya…memenangkan setiap pertempuran,dan menggenapi setiap nubuatan atau janji Tuhan dalam hidupnya.
Namun masalahnya: banyak gereja merasa aman sebagai “penonton”, padahal Tuhan sedang mencari “pejuang”!!..orang-orang yang memberi diri untuk di didik dan dibentuk oleh Tuhan dengan proses!!
Iman yang tidak bertumbuh, tidak berakar dan tidak berbuah.
Kita hidup di dunia tidak memberi rasa..dan kita tidak mampu menerangi orang-orang disekitar kita!!

Kita bisa menjadi orang Kristen yang tahu banyak tentang agama, setia dalam berbagai aktivitas gereja, namun menjalani hari-hari tanpa kehadiran Tuhan di dalam hati; jiwa terasa hampa, letih oleh beban dan persoalan yang datang silih berganti.
Waktu seakan berjalan tanpa makna, seperti sekadar menunggu akhir, sementara di dalam diri masih ada ruang-ruang yang sunyi—bagian-bagian hidup yang belum tersentuh oleh hadirat-Nya, kamar-kamar gelap yang belum diterangi oleh terang Tuhan.
2 Timotius 3:5 (TB) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
2 Timotius 3:5 (TSI3) Memang, di depan orang mereka berlagak saleh, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh ingin mengenal Allah atau pun diubahkan oleh kuasa-Nya! Jauhkanlah dirimu dari orang-orang seperti itu.
“Tuhan Mencari Pasukan yang Hidup dalam Kuasa, Bukan Kerumunan yang Hanya Tampak Rohani.”
“Ini peringatan Tuhan: hidup tanpa hadirat dan kuasa-Nya, semua aktivitas rohanimu hanyalah kegaduhan yang menipu—dan jika tidak ada pertobatan. Itu akan
Point kedua:
Apa kata Alkitab tentang hal ini..??
1. “Kelihatannya hidup, tetapi sebenarnya mati”
Kitab Wahyu 3:1
“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati.”
Ini adalah teguran kepada jemaat di Sardis.
Secara lahiriah mereka aktif, mungkin terorganisir, bahkan dikenal “hidup”—tetapi Tuhan melihat realitas rohani yang kosong.
Aku melihat umat-Ku berdiri dengan wajah penuh keyakinan, tetapi hati mereka jauh dan dingin—mereka menyebut nama-Ku, namun tidak lagi gemetar akan hadirat-Ku! Inilah tipu daya yang paling halus: engkau merasa hidup, padahal rohmu sedang sekarat dalam diam.
Engkau bangga dengan label, sibuk dengan aktivitas, tetapi kehilangan api yang dahulu menyala! Bertobatlah sebelum Aku menyingkapkan keadaanmu yang sebenarnya—sebab Aku tidak mencari yang tampak hidup, Aku mencari yang benar-benar menyala! Kembalilah kepada-Ku, sebelum terang yang kau kira milikmu ternyata hanyalah bayangan dari api yang sudah padam!”
Makna:
Gereja bisa punya aktivitas, reputasi, bahkan pelayanan yang besar—
tetapi tanpa hadirat Tuhan, semuanya itu dianggap mati.
2. “Memiliki bentuk ibadah, tetapi menyangkal kuasaNya”
2 Timotius 3:5
“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.”
“Aku melihat mezbah-mezbah penuh aktivitas, tetapi langit tertutup di atasnya! Suara pujian bergema, namun tidak menembus hadirat-Ku—sebab itu hanyalah gema tanpa roh! Engkau mempertahankan bentuk ibadah, tetapi menyalibkan kuasa-Ku setiap hari—menolak kekudusan, menolak pertobatan, menolak api yang membakar dagingmu! Lihatlah! Hari Tuhan mendekat seperti api yang menghanguskan—dan segala yang palsu akan tersingkap! Topeng akan runtuh, kemuliaan semu akan menjadi abu, dan yang tersisa hanyalah mereka yang sungguh-sungguh hidup dalam Roh dan kebenaran! Bertobatlah sekarang! Sebab Aku datang bukan untuk mengagumi ibadahmu—Aku datang untuk menguji dengan api, dan hanya yang murni yang akan bertahan!”
Makna:
Ibadah tetap ada, liturgi tetap berjalan, bahkan bahasa rohani tetap dipakai—
tetapi kuasa Tuhan (yang lahir dari hadirat-Nya) tidak ada.
3. “Aku akan memuntahkan engkau”
Kitab Wahyu 3:15–16
“Engkau tidak dingin dan tidak panas… Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”
Makna:
Kondisi “suam-suam kuku” adalah tanda gereja yang kehilangan api hadirat Tuhan.
Tidak sepenuhnya meninggalkan Tuhan, tetapi juga tidak sungguh-sungguh hidup di dalam-Nya.
BANYAK ANAK TUHAN DI AKHIR ZAMAN ADA DI FASE INI!
kerohanian yg berbahaya:”HIDUP SEGAN..MATI TAK MAU”
Mengapa disebut suam-suam kuku?
Karena:
Tidak dingin → bukan orang yang benar-benar menolak Tuhan.
Tidak panas → tetapi juga tidak memiliki gairah, api, dan kesungguhan dalam mengasihi Tuhan.
Artinya secara rohani:
Iman ada, tapi tidak hidup.
Pelayanan ada, tapi tanpa hati.
Aktivitas rohani ada, tapi tanpa keintiman dengan Tuhan.
Masalah utamanya: Bukan karena tidak tahu Tuhan, tetapi karena kehilangan api—menjadi nyaman, kompromi, dan tidak lagi peka.
Mengapa Tuhan menolak kondisi ini? Karena suam-suam kuku adalah bentuk kemunafikan rohani yang halus—terlihat hidup, tapi sebenarnya mati di dalam.
4. “Kemuliaan Tuhan telah pergi:
Kitab Yehezkiel 10:18
(Kemuliaan Tuhan meninggalkan Bait Allah)
“Manusia mulai merasa dirinya dekat dengan Tuhan hanya karena banyaknya aktivitas rohani—bahasanya rohani, doanya terdengar dalam, pelayanannya terlihat hidup. Namun di balik itu, hatinya tidak benar-benar tenggelam dalam Tuhan. Semua hanya di permukaan—ramai di luar, tetapi kosong di dalam. Tidak ada kedalaman, tidak ada perjumpaan, tidak ada perubahan. Inilah tipu daya yang halus: terlihat intim, padahal jauh; terlihat hidup, padahal kering. Dan yang paling berbahaya, manusia merasa sudah cukup… padahal ia belum benar-benar mengenal Tuhan
Makna:
Tempat ibadah masih berdiri, sistem masih berjalan—
tetapi hadirat Tuhan sudah pergi.
Ini adalah gambaran paling mengerikan:
segala sesuatu tampak sama, tetapi Tuhan sudah tidak ada di sana
5. “Engkau meninggalkan kasih yang semula” Kitab Wahyu 2:4–5
“Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”
Hubungan tanpa cinta adalah kehampaan yang dibungkus kesetiaan. Masih ada komunikasi, masih ada kebersamaan, tetapi tidak ada hati di dalamnya. Semua berjalan… tapi tidak hidup. Demikian juga dengan Tuhan—seseorang bisa tetap berdoa, beribadah, bahkan melayani, namun tanpa kasih, semuanya menjadi dingin dan tidak berarti. Yang tersisa hanyalah kewajiban, bukan kerinduan; rutinitas, bukan hubungan. Dan tanpa cinta, hubungan itu perlahan mati… meskipun dari luar masih terlihat utuh.”
Makna:
Kehilangan hadirat Tuhan sering tidak terjadi tiba-tiba—
tetapi dimulai dari hati yang menjauh perlahan.
Ketika Tuhan berbicara kepada umatNya ,Tuhan sedang menyatakan isi hatiNya kepada mereka …
Dia harus memperingatkan orang-orang kesayanganNya…sebelum kesudahan segala sesuatu yang mengerikan itu,YAKNI HARI TUHAN!!KEHWNDAKNYA TIDAK ADA SATUPUN YANG BINASA!!PENYESALAN KEKAL…KEMATIAN KEKAL!!
“TUHAN MEMBANGUN PASUKAN, BUKAN KERUMUNAN”
Tuhan tidak sedang mengumpulkan banyak orang—
Tuhan sedang membangun pasukan.
Di mata manusia, keramaian sering terlihat rohani: pertemuan besar, sorak sorai, aktivitas yang padat, emosi yang meluap.
Namun di mata Tuhan…itu bisa saja hanyalah kegaduhan tanpa makna.
Seperti dalam Yesaya 13—
ada suara gaduh di atas gunung.
Gunung itu tempat kudus.
Gunung itu tempat perjumpaan dengan Allah.
Tetapi yang terdengar…bukan penyembahan yang murni—
melainkan hiruk-pikuk yang kosong.
Mereka ada di gunung Tuhan…tetapi hati mereka tidak naik kepada-Nya.Mereka berkumpul…tetapi tidak berperang dalam kehendak-Nya. Mereka bersorak…
tetapi tidak hidup dalam ketaatan. Ini peringatan yang keras dan tidak bisa ditawar:
Tuhan tidak mencari keramaian — Tuhan mencari kesiapan.
Tuhan tidak mencari euforia —
Tuhan mencari kesetiaan.
Tuhan tidak membentuk penonton — Tuhan membangun pasukan.
Pasukan yang:
°terlatih
°murni
°taat
siap berperang dalam kehendak-Nya
Untuk:
memenangkan setiap pertempuran
menggenapi setiap janji Tuhan
MASALAH BESAR GEREJA HARI INI
Banyak orang merasa aman menjadi “penonton”… padahal Tuhan sedang mencari “pejuang”.
Orang yang: mau diproses..mau dibentuk…mau dihancurkan egonya..
mau hidup dalam ketaatan.
Karena iman yang tidak bertumbuh akan: tidak berakar..tidak berbuah…tidak memberi dampak
Kita hidup di dunia… tetapi tidak memberi rasa.
Kita ada… tetapi tidak menerangi.
REALITA ROHANI YANG MENGERIKAN
Kita bisa: aktif dalam gereja,setia dalam pelayanan,tahu banyak tentang Tuhan.
Namun…hidup tanpa hadirat-Nya.
Jiwa menjadi: hampa,letih,kosong.
Hari demi hari berlalu tanpa makna.
Dan di dalam hati… masih ada ruang-ruang gelap yang belum tersentuh oleh terang .
Penulis : Pdt. Ruth Sulisningrum


















