Ketika bulan Maret 1967 diterima berita bahwa MPRS telah memutuskan Soeharto, Jenderal TNI yang waktu itu menjadi Pangkopkamtib, menjadi Presiden RI, menggantikan Bung Karno, berita ini diterimanya di Istana Bogor didampingi istrinya, Hartini.
“Kelihatan benar betapa terpukul hatinya saat itu. Lama ia duduk tanpa kata sepatahpun. Akhirnya, sambil menarik nafas panjang Bung Karno berkata: Aku telah memberikan segala sesuatu yang kuanggap baik bagi nusa dan bangsa Indonesia”.
(Bambang Widjanarko-Sewindu dekat Bung Karno-Gramedia 1998)
“Kalau saya melangkah satu langkah lagi memenuhi tuntutan-tuntutan, akan pecah perang saudara. Dan bangsa ini akan terpecah. Ikhlaskan, Cak. Saya tahu akan tenggelam. Biar saya tenggelam asal bangsa ini tidak terpecah-pecah”, kata Bung Karno kepada Roeslan Abdulgani, awal maret 1967 di Istana Bogor.
(Ruslan Abdulgani, “Sedikit tentang Sejarah Hidup dan Teori Perjuangan Bung Karno”, dalam Prosoding Hasil Seminar Nasional Narhaenisme, “Relevansi Teori Perjuangan Bung Karno”. Yogyakarta: Keluarga Besar Marhaen, 1998).
“Revolusi terkadang harus memangsa anak-anaknya sendiri”, demikian pernah diucapkan Bung Karno. Dan kini Bung Karno telah membuktikan diri sebagai martyr (syahid) demi keutuhan bangsa dan Negaranya.
(Sumber: Bambang Noorsena-Religi dan Religiusitas Bung Karno)
#DibyoJasmerah
#MengenangSangAdipatiKarna










