Menulis adalah keterampilan yang tidak mudah karena berkaitan dengan menemukan hal-hal yang dipikirkan dan dituangkan dalam kode bahasa verbal tulis. Kalimat ini mengandung dua implikasi. Pertama, untuk menemukan ide diperlukan sejumlah pengetahuan melalui pengalaman yang pernah dilihat, didengarkan, dirasakan, diraba, dan dicium. Pendek kata, menulis memerlukan modal awal yaitu pengetahuan. Kita tidak akan bisa menulis apabila tidak memiliki pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, Savage dan Mayer mengutip F. Schot Fitzgerald, disebutkan bahwa menulis adalah untuk mengatakan sesuatu, sedangkan Joan Didion menyatakan bahwa secara keseluruhan, menulis adalah untuk menemukan apa yang saya pikirkan, lihat, dan saksikan dan apa artinya (2005, hal. 2). Oleh karena itu, agar dapat menulis, seseorang harus terlebih dahulu mencari sebanyak mungkin informasi tentang topik yang ditulis. Informasi yang menjadi pengetahauan ini dapat diperoleh misalnya melalui kegiatan membaca. Dengan banyak membaca, kita memperoleh begitu banyak pengetahuan. Kedua, agar dapat menulis, kita harus memiliki pengetahuan tentang gaya menulis. Gaya ini diartikan sebagai penataan bentuk bahasa dalam karangan termasuk pemilihan kata dan kalimat.

Adanya kesulitan menulis terutama untuk pelajar dan mahasiswa tingkat awal, diperlukan sebuah cara yang konkret tentang cara menyusun alinea dengan benar. Alinea/paragraf diartikan sebagai kumpulan kalimat yang membangun satu-kesatuan ide yang terdiri dari satu topik utama dan beberapa topik penjelas. Topik penjelas dapat berisi paparan, alasan, bukti, dll. Untuk dapat menyusun alinea dengan benar, terdapat beberapa indikator berupa pertanyaan yang dapat menjadi acuan seperti apakah kalimat topik membantu memahami akan apa yang akan dibahas; berapa kalimat pendukung; apakah semua kalimat pendukung berhubungan dengan kalimat topik; dan apakah kalimat kesimpulan sudah memberi tanda paragraf selesai.
Kalimat Topik yang Efektif
Lalu, bagaimana menyusun kalimat topik yang efektif? Kalimat topik tidak cukup ketika hanya dapat dipahami, tetapi harus benar-benar efektif. Ini berarti bahwa kalimat topik sudah memberikan potensi yang jelas untuk bisa dikembangkan dalam sedikitnya tiga kalimat pendukung. Kalimat topik yang efektif terdiri dari dua hal yaitu ide umum dan ide pengontrol. Ide umum masih nampak luas, sedangkan ide pengontrol berperan dalam mengontrol apa saja yang hendak diperluas melalui kalimat topik itu. Kita ambil contoh misalnya merokok itu berakibat buruk. Kalimat topik ini masih harus ditambah dengan ide pengontrol misalnya karena memboroskan keuangan, karena mengganggu kesehatan atau karena membuat lingkungan menjadi kotor. Ide pengontrol memboroskan keuangan menjadikan kita dapat memerinci secara padu beberapa ide penjelas seperti berapa bungkus yang dihabiskan, berapa harga rokok setiap bungkus, berapa uang yang diperlukan untuk membeli sejumlah rokok tersebut. Contoh lainnya, Yogyakarta adalah kota pelajar. Kota pelajar berperan sebagai ide pengontrol sehingga kita dapat memerinci dalam ide penjelas seperti didatangi banyak calon pelajar dan mahasiswa, banyak didirikan sekolah dan perguruan tinggi, memiliki fasilitas perpustakaan daerah, banyak dibangun toko fotokopi dan alat tulis dan ide lain yang sejalan.
Ide pengontrol akan membuat alinea dalam kesatuan ide. Alinea yang disusun pun tidak mengandung kekacauan maksud. Ide pengontrol berperan dalam memastikan bahwa ide penjelas tetap relevan /koheren dengan ide utama. Contoh ide penjelas yang tidak koheren dengan kalimat topik misalnya kalimat Yogyakarta adalah kota pelajar. Tanah di sekitarnya sangat subur. Kedua kalimat ini jelas tidak berkoherensi karena tidak adanya hubungan logika antara kota pelajar dan tanah yang subur.
Setelah memperhatikan syarat menulis terutama di dalam memperoleh ide dan mengembangkannya dalam alinea, kita harus memahami bahwa kegiatan menulis harus menjadi kebiasaan. Menulis harus dilakukan secara terus-menerus karena menulis adalah keterampilan yang memerlukan proses latihan. Di samping itu, aspek yang harus dipahami yaitu bahwa menulis adalah masalah disiplin, bukan menunggu inspirasi. Hanya dengan membiasakan disiplin menulis, kita dapat mencapai kemampuan yang baik. Selain itu, harus juga disiplin membaca untuk memperoleh pengatahuan topik dan gaya penulisan.
(Penulis: Dr. Abednego Tri Gumono, M.Pd.)
Rujukan:
Effekctive Academic Writing-The Short Essay.2005. Alice Saavage & Elisa Mayer. New York: Oxford University Press

















