Ulasan Karya Sastra: Menyelami Makna Kesepian dalam “Sajak Hampa” karya Chairil Anwar

Dr. Abednego Tri Gumono, M.Pd. Dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang)  

banner 468x60

Kesepian adalah bagian dari kehidupan manusia. Kehadirannya dapat membuat orang takut maupun senang. Kesepian yang menakutkan dirasakan seseorang bagai pisau yang menyayat-nyayat kulit ataupun duri yang menancap dan terasa sangat menyakitkan. Kesepian dapat melumpuhkan semangat atau aktivitas. Kesepian bahkan dapat menjadi sesuatu yang membahayakan. Namun demikian ada pula orang-orang tertentu yang justru senang dengan kesepian, misalnya bagi penyair atau pengarang lagu yang membutuhkan suasana sunyi untuk berkonsentrasi mendapatkan ide-ide atau gagasan baru. Suasana sepi juga sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang memiliki kepadatan kerja tinggi seperti di kota-kota besar. Suasana sepi dapat menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat dan melupakan semua kepenatan kerja.

Ilustrasi

Kesepian dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa dini, dewasa madya, maupun pada orang yang sudah lanjut usia (Weiten & Lloyd, 2006) dalam Rizky Apriyani 2022. Kesepian merupakan pengalaman subjektif dan tergantung pada setiap interpretasi individu terhadap suatu kejadian (Perlman & Peplau dalam Dane, Deaux, & Wrightsman, 1993) dalam Ummu Kuzaima, 2008.

banner 336x280

Baron & Byrne (2000) dalam Ririn Mayasari, 2018 mendefinisikan kesepian sebagai suatu reaksi emosional dan kognitif karena memiliki hubungan sosial yang lebih sedikit dan kurang memuaskan dibandingkan yang diinginkannya.

Menurut Bruno (dalam Dayakisni, 2003), kesepian dapat berarti suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya perasaan-perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. Definisi yang hampir sama juga diberikan oleh Peplau & Perlman (dalam Brehm, 2002) melalui https://repository.uin-suska.ac.id ›  mengatakan bahwa kesepian itu merupakan perasaan kekurangan dan ketidakpuasan karena adanya kesenjangan antara hubungan sosial yang kita inginkan dengan hubungan sosial yang kita miliki. Menurut Taylor dalam Peplau & Sears (2000) melalui

https://fr.scribd.com › makalah-komunitas-docx kekurangan ini dapat bersifat kuantitatif, misalnya seseorang tidak memiliki seorang temanpun ataupun sedikit teman dibandingkan yang diinginkannya. Atau kekurangan tersebut dapat bersifat kualitatif misalnya seseorang yang merasa bahwa hubungan sosial yang dibinanya hanya bersifat seadanya saja (superficial) atau dirasakan kurang memuaskan dibandingkan yang diinginkannya.

Kesepian yang dialami oleh Chairil dalam sajak Hampa nampaknya merupakan bagian hidup yang sangat menyengsarakan, membuat Chairil merasakan betapa kesepiaan sangat menekan perasaannya. Penggambaran sepi dalam diri Chairil sangat tandas dengan deskripsi latar yang sangat mengena dan serasa lebih dari cukup bahkan berlebih untuk mengambarkan suasana yang dialaminya. Ini dapat dilihat dari baris pertama. Sepi digambarkan dapat memagut seperti ular berbisa, sehingga dapat dibayangkan bagaimana efek kesepian atau rasa kesepian yang dialami penyair. Kesepian dalam diri Chairil semakin menjadi-jadi dan mendominasi keadaan jiwanya. Semua itu semakin berat karena hanya menunggu sesuatu yang tak jelas ujungnya. Nampak pula bahwa dalam penantian itu kesepian semakin jahat, seperti digambarkan dalam baris /udara bertuba/. Sedemikian berat hari-hari yang dibelenggu kesepian sampai-sampai setan pun bertepuk tangan mengejek penyair. Hari-hari seakan menjadi hari yang tidak berkawan. Kesepian tak akan berakhir bagi Chairil dan ia hanya menunggu dalam sepi.

Apa yang menyebabkan Chairil begitu meratapi sepi sedemikian dalam? Jika dibaca pada bagian atas sajak sebelah kanan, tertulis kepada Sri (Sri Ayati) gadis pujaan Chairil yang tak membalas cintanya. Sri sudah punya tunangan dan menikah dengan seorang dokter, Soeparsono yang kemudian tinggal di Serang dan Magelang (Chairil Anwar Bagimu Negeri Menyediakan Api, 2016 hal.82). Demikianlah prahara cinta Chairil yang kandas oleh karena cintanya tak bertepuk kedua belah tangannya. Dalam sajak “Senja di pelabuhan Kecil” sebagai suatu perbandingan juga menjelaskan bagaimana Chairil seperti bener-benar didekap rasa kecewa yang sangat mendalam. Namun dalam sajak itu, Chairil masih merasa punya harapan akan cintanya. Ini berbeda dengan sajak “Hampa.” Dari berbagai informasi buku-buku Chairil, ia adalah penyair yang flamboyan. Ia terlibat cinta dengan beberapa gadis pada masa mudanya. Namun cintanya pada Sri tidak bersambut dengan manis, tetapi justru berjalan dalam kehampaan dan kesepian. Kesepiaan yang dialaminya berjalan terus hingga tidak tahu kapan akan berakhir. Itu semua menyebabkan kehampaan yang mendalam bagi Chairil. Kesepian yang dialami penyair, merujuk pada kesepiaan akibat terputusnya hubungan dengan orang lain dalam hal ini kekasih yang dicintainya. Hubungan cintanya menjadi asing dan tidak bermakna lagi.

Tentang Penulis

Dr. Abednego Tri Gumono, M.Pd. Dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang)

Rujukan:

Chairil Anwar Bagimu Negeri Menyediakan Api, 2016 hal.82. Jakarta: Gramedia

https://repositori.uma.ac.id/bitstream/123456789/17454/2/148600283_Rizky%20Apriyani_Fulltext.pdf

https://repositori.uma.ac.id/bitstream/123456789/13228/1/KI%20-%20Ummu%20Khuzaimah%20-%20Loneliness%20%28Kesepian%29.pdf

https://e-journals.unmul.ac.id › download › pdf

https://repository.uin-suska.ac.id ›

https://fr.scribd.com › makalah-komunitas-docx

 

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *